Selasa, 21 April 2015

Spesimen drainase luka

BAB I
PENDAHULUAN

1.1            LATAR BELAKANG
Pada saat ini penyakit telah berkembang dan bertambah banyak, bahkan penyakit saat ini telah merajalela dalam kehidupan masyarakat. Namun penyakit yang paling banyak ialah penyakit infeksi luka yang dikarenakan luka tersebut tidak segera diobati sehingga timbul organisme dalam luka yang diderita.
Dalam kegiatan keperawatan pengambilan spesimen drainase luka merupakan keahlian yang harus dimiliki oleh seorang perawat. Karena dengan pengambilan spesimen drainase luka kita dapat mengetahui bagaimana penyakit yang diderita pasien dan kita juga dapat mengetahui bakteri atau organisme yang terdapat pada luka yang diderita oleh pasien.
           Dalam makalah ini kami akan menerangkan dan menjelaskan bagaimana prosedur dari pengambilan spesimen drainase luka. Sesuai dengan penjelasan dan keterangan yang kami proleh dari berbagai sumber supaya kami dapat mempergunakan makalah ini untuk kepentingan belajar kami.

1.2            TUJUAN
1.      Agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami mekanisme pengambilan spesimen drainase luka.
2.      Agar mahasiswa dapat mengindikasikan warna spesimen drainase luka.

1.3      RUMUSAN MASALAH
1.  Bagaimana cara pengambilan spesimen drainase luka?
2.  Bagaimana prosedur  pemeriksaan spesimen drainase luka?






BAB II
ISI

2.1      PENGERTIAN
            a.    Pengertian Eksudat/Cairan Luka
Keberdaan eksudat dalam proses penyembuhan luka merupakan pristiwa normal yang tidak bisa dihindari. Namun sering kali eksudat menimbulkan masalah sendiri bia tidak dikelola dengan tepat. Bau, nyeri, kerusakan kulit sekitar luka dan kebocoran balutan tentumya sangat mempengaruhi quality of live pasien serta menggambarkan bagaimana quality of care diterima. Definisi mengenai eksudat luka masih simpang siur beberapa praktisi mendifinisikan eksudat sebagai “ sesuatu yang kelur dari luka”, “cairan luka”, “drainase luka” dan “kelebihan cairan normal”. Saat ini pemahaman terhadap pengertian eksudat luka di dasarkan pada pemahaman bahwa eksudat luka merupakan interaksi yang kompleks diantara faktor – faktor berikut :
1.      etiologi luka
2.      fisiologi penyembuhan luka
3.      lingkungan luka
4.      proses patologis pada luka
Sering kali eksudat luka dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Padahal dalam kenyataannya eksudat luka memiliki fungsi fisiologis dalam proses penyembuhan luka melalui mekanisme :
1.      mencegah kekeringan pada dasar luka
2.      membantu migrasi sel – sel
3.      menyediakan nutrisi esensial dagi metabolisme seluler
4.      memungkinkan difusi immunity factors dan growth factors
5.      membantu melepaskan jaringan mati atau autolisis
Meskipun demikian eksudat dapat menjadi sebuah masalah bagi pasien dan perawat ketika kuantitas produksi dan atau kualitas komposisi eksudat berdampak negatif dalam  proses penyembuhan luka yang pada akhirnya mengganggu proses penyembuhan luka, menimbulkan gangguan fisik dan psikososial serta memperpanjang lama rawat.
Eksudat luka bukan hanya semata-mata cairan internal luka yang tidak berguna tapi merupakan alat komunikasi non verbal bagi luka untuk menyampaikan masalahnya kepada perawat. Oleh karena itu penggunaan masker dalam perawatan luka sebenarnya justru menghalangi perawat dalam menginterpretasikan bau eksudat yang ada dan menjadi barrier empati perawat terhadap pasien. Memahami komposisi, sifat dan karakteristik eksudat akan membantu perawat dalam menginterpretasikan masalah luka untuk mengambil keputusan yang tepat.
b.   Pengetian Pengambilan Spesimen Eksudat/Cairan Luka
Merupakan suatu proses pengambilan eksudat atau cairan luka pada infeksi yang diderita oleh pasien sebagai bahan penelitian pada laboratorium. Hal ini dilakuakan  agar mengetahui sejauh mana infeksi yang dialami oleh pasien.

2.2      JENIS DRAINASE LUKA
Cairan yang mengandung sel yang keluar dari pembuluh darah selama fase inflamasi penyembuhan luka dan menumpuk di jaringan atau permukaan jaringan dinamakan eksudat. Ada tiga tipe utama eksudat : serosa,purulen, dan sanguinosa.
Salah satu komplikasi penyembuhan luka adalah infeksi. Luka dapat terinfeksi mikroorgnisme pada saat cedera,selama pembedahan dan pascaoperasi.

2.3      INDIKASI
Tindakan pengambilan eksudat ini dilakukan kepada pasien yang mengalami infeksi pada lukanya sehingga muncul pus pada luka yang di derita oleh pasien. Tindakan ini harus dilakukan untuk mendapatkan bahan atau sempel penelitian dalam meneliti eksudat yang ada pada luka pasien yang berupa cairan baik itu serosa,purulen, ataupun sanguinosa.



2.4      PENDELEGASIAN
Pengambilan kultur luka merupakan suatu prosedur invasif yang membutuhkan penerapan teknik steril, pengetahuan tentang penyembuhan luka, dan kemampuan pemecahan masalah untuk memastikan keamanan klien, dan oleh karena itu perawat yang perlu melakukan teknik ini.
Tipe Eksudat
Deskripsi
Unsur Pokok
Serosa
Encer, jernih
Serum, sedikit sel
Purulen
Lebih kental karena ada us; warna  bervariasi (misalnya sedikit biru, hijau atau kuning). Warna mungkin bergantung pada organisme penyebabnya.
Leukosit, debris jaringan mati yang cair dan bakteri yang hidup dan mati.
Sanguinosa (Hemoragik)
Merah gelap atau terang. Eksudat sanguinosa yang terang mengindifikasikan pendarahan segar, sedangkan eksudat sanguinosa yang gelap menunjukan pendarahan yang sudah lama.
Sel darah merah.
Serosangunosa
Drainase jernih dan ada sedikit darah. Biasanya terlihat pada insisi bedah.
Sel darah merah dan serum.
Purosanguinosa
Pus dan darah. Sering terlihat pada luka baru yang terinfeksi.
Leukosit debris jaringan mati yang cair, bakteri dan sel darah merah.





2.5      PENGKAJIAN
-          Kaji penampilan luka dan jaringan sekitarnya. Cek karakter dan jumah drainase luka. Apakah klien mengeluh nyeri pada daerah luka.
-          Kaji tanda – tanda infeksi seperti demam, menggigil, atau mengeluh jumlah sel darah putih.

2.6      PERENCANAAN
Sebelum mengambil spesimen drainase luka, tentukam:
1.      Apakah luka harus dibersihkan sebelum mengambil spesimen.
2.      Apakah tempat pengambilan spesimen ditetapkan.

2.7      DIAGNOSA
-          Resiko tinggi infeksi yang berhubungan dengan adanya mikroorganisme dalam eksudat luka.
-          Gangguan integritas jaringan yang berhubungan dengan adanya mikroorganisme yang menyerang tubuh.
-          Perubahan kenyamanan yang berhubungan dengan proses infeksi dan ketidaknyamanan tubuh.

2.8      PERSIAPAN PASIEN
Jelaskan kepada klien apa yang dimaksud dengan drainase luka dan bagaimana cara pengambilannya secara singkat agar klien dapat mengerti ketika pengambilan spesimen berlangsung. Sarankan pasien dalam posisi yang nyaman agar proses pengambilan dapat berlangsung dengan baik. Berikan analgesik selama 30 menit sebelum prosedur bila klien mengeluh nyeri pada daerah luka.

2.9      PERLENGKAPAN
-          Sarung tangan disposabel.
-          Sarung tangan steril.
-          Kantong tahan lembab.
-          Set balutan luka steril.
-          Salin normal dn spuit irigasi.
-          Tabung kultur dengan swab dan media kultur (tabung aerob dan anaerob tersedia) dan/atau spuit steril dengan jarum untuk kultur anaerob.
-          Label berisi informasi lengkao pada masing – masing tabung.
-          Slip permintaan laboratorium yang dilampirkan bersama spesimen.

2.11    PELAKSANAAN
Cek permintaan medis untuk menentukan apakah spesimen dikumpulkan untuk kultur aerob atau anaerob. Berikan analgesik selama 30 menit sebelum prosedur bila klien mengeluh nyeri pada daerah luka.
Pelaksanaan:
1.      Jelaskan kepada klien apa yang akan Anda lakukan, mengapa hal tersebut perlu dilakukan, dan bagaimana klien dapat bekerjasma. Diskusikan bagaimana hasilnya akan digunakan untuk merencanakan perawatan atau terapi selanjutnya.
2.      Cuci tangan dan observasi prosedur pengendallian infeksi lain yang sesuai misalnya sarung tangan.
3.      Berikan privasi klien.
4.      Angkat setiap balutan luar yang lembab yang menutupi luka.
a.       Pasang sarung tangan disposabel.
b.      Angkat balutan luar, dan observasi setiap drainase pada balutan. Pegang balutan luka sehingga klien tidak melihat drainase karena tampilan drainase dapat membuat klien terganggu.
c.       Tentukan jumlah drainase drainase, contohnya satu kasa ukuran 5 X 5 cm penuh dengan drainase kuning pucat.
d.      Buang balutan ke kantong pembuangan tahan lembab. Pegang secara hati-hati sehingga balutan luka tidak menyentuh bagian luar kantong. Menyentuh bagian luar kantong akan mengontaminasikanya.
e.       Lepas sarung tangan Anda dan buang dengan benar.
5.      Buka sel balutan steril dengan cara teknik steril.



6.      Kaji luka
a.       Pasang sarung tangan steril.
b.      Kaji tampilan jaringan yang luka dan sekitarnnya serta drainase. Infeksi dapat menyebabkan jaringan kemerahan dengan rabas yang tebal, keputih-putihan, atau berwarna.
7.      Bersihkan luka
a.       Irigasi luka dengan salin normal hingga semua eksudat yang terlihat, menjadi hilang.
b.      Setelah irigasi, letakan bantalan kassal steril pada luka. Kassa akan mengabsorsi salin yang berlebihan.
c.       Jika untuk mengobati luka digunakan krim atau salep antimikroba topikal, gunakan swab untuk membersihkannya. Antiseptik sisa harus dibersihkan dahulu sebelum kultur.
d.      Lepas dan buang sarung tangan.
8.      Ambil kultur aerob.
a.       Buka tabung spesimen dan letakkan tutup dalam keadaan terbalik pada permukaan yang kering dan keras, sehingga bagian dalam tidak akan terkontaminasi, atau bila swab menempel pada tutup, putar tutup untuk melepaskan swap. Pegang tabung pada satu tangan dan ambil swab dengan lainnya.
b.      Putar swab ke depan ke belakang pada jaringan granulasi yang bersih dari sisi atau dasar luka. Mikroorganisme yang kemungkinan besar bertanggungjawab terhadap infeksi luka terletak pada jaringan yang hidup.
c.       Jaringan menggunakan eksudat yang mengumpul atau pus untuk kultur. Sekresi tersebut telah bercampur dengan pencemar yang tidak sama dengan penyebab infeksi.
d.      Hindari alat usapan menyentuh kulit yang utuh pada bagian pinggir luka. Tindakan ini mencegah organisme permukaan kulit mengontaminasikan kultur.
e.       Masukan alat usapan ke dalam kultur, hati – hati jangan sampai menyentuh bagian atas atau luar tabung. Bagian luar tabung harus tetap bebas dari mikroorganisme patogenik untuk mencegah penyebarannya ke benda lain.
f.        Hancurkan bagian dalam ampul yang berisimedia untuk pertumbuhan organisme pada dasar tabung. Tindakan ini memastikan swab yang mengandung spesimen berada dalam media kultur.
g.       Tutup dengan rapat.
h.      Bila spesimen perlu diambil dari tempat lain. Ulangi langkah – langkah tersebut. Tuliskan daerah yang benar pada setiap label tbung misalnya bagian inferior daerah drainase atau bagian bawah insisi pastikan untuk memasukkan setiap swab ke dalam tabung dengan label yang sesuai.
9.      Balut luka.
a.       Berikan tiap obat yang diprogramkan pada luka.
b.      Tutup  luka dengan balutan luka yang lembab, transparan, dan steril.
10.  Atur spesimen untuk segera dibawa ke laboratorium. Pastikan slip permintaan laboratorium yang lengkap telah terlampir.
11.  Dokumentasikan semua inforamsi yang relevan.
a.       Catat pada catatan tentang pengambilan spesimen dan sumbernya.
b.      Pendokumentasian meliputi tanggal dan waktu; tampilan luka, warna, konsistensi, jumlah, dan bau dari drainase yang ada; tipe kultur yang dikumpulkan dan ketidaknyamanan yang dialami oleh klien.
c.       Masukkan spuit 10 ml (tanpa jarum) steril ke dalam luka, dan aspirasi 1-5ml drainase ke dalam spuit.
d.      Pasang jarum ukuran 21 ke spuit, dan keluarkan semua udara dari spuit dan jarum.
e.       Segera injeksikan drainase ke dalam tabung kultur anaerob. Atau bila tersedia penyumbat atau tutup karet, masukkan jarum ke dalam penyumbat atau tutup karet tersebut untuk mencegah udara masuk.
f.        Beri label pada tabung atau spuit dengan benar.
g.       Kirim tabung atau spuit drainase ke laboratorium dengan segera, jangan mendinginkan spesimen.


Adapun pelaksanaan yang lebih mudah dalam mengambil spesimen drainase luka. Prosedurnya antara lain:
1.                  Cuci tangan sebelum mengambil spesimen drainase.
2.                  Ambil spesimen sebelum pemberian terapi antibiiotik. Jika klien mendapat antibiioti, tuliskan nama obat tersebut pada formulir laboratorium
3.                  Gunakan tabung steril untuk menyimpan bahan dan gunakan tindakan aseptik selama pengambilan bahan untuk pemeriksaan.
4.                  Tanyakan petugas laboratorium mengenai tehnik – tehnik khusus yang digunakan; prosedur mungkin bervariasi.
5.                  Gunakan kit kultur yang berisi kapas steril atau pengusap beujung poliester dan sebuah tabung dengan media kultur.
6.                  Usapkan cairan eksudat luka.
7.                  Tempatkan usapan eksudat tersebut ke dalam tabung yang berisi media kultur.
8.                  Pakai sarung tangan steril jika banyak cairan drainase purulen.
9.                  Cuci tangan sesudah mengambil bahan pemeriksaan.
10.              Segera kirim cairan eksudat tersebut ke laboraorium.

2.12    EVALUASI
-          Bandingkan hasil pengkajian dan drainase luka saat ini dengan pengkjian sebelumnya untuk menentukan adanya perubahan.
-          Laporkan hasil kultur kepada dookter.
-          Lakukan tindakan lanjut yang sesuai seperti pemberian obat yang diprogramkan.




BAB III
PENUTUP

3.1      KESIMPULAN
Sesuai dengan penjelasan yang ada pada makalah ini, kami dapat menarik beberapa kesimpulan diantaranya:
1.      Pengambilan speimen drainase luka merupakan tindakan yang dilakukan untuk mendapatkan suatu bahan penelitian dan dilakukan sesuai dengan prosedur yang ada serta sesuai.
2.      Tujuan dari pengambilan spesimen drainase luka adalah untuk mendapatkan sempel dalam penelitian dan dapat mengkaji sejauh mana mikroorganisme pada luka tersebut berkembang.

3.2      KRITIK DAN SARAN
                        Pengambilan spesimen drainase luka merupakan suatu keahlian yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa keperawatan sebagai calon perawat prefosional. Oleh karena itu kepada setiap mahasiswa/i haruslah berlatih dan belajar bagaimana pengambilan spesimen yang baik dan benar sesuai dengan prosedur yang ditentukan. Selain itu diharapkan setiap mahasiswa tidak takut ataupun jijik ketika melihat ataupun mnyium aroma nanah, eksudat dan cairan luk lainnya.
                        Kami sadar makalah kami ini jauh dari kesempurnaan, namun semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Apabila ada kekurangan dari makalah ini kami mohon kritikan yang bersifat membangun dari pembaca agar dapat menjadi bahan acuan dikemudian hari.







DAFTAR PUSTAKA

Audrey Berman, Shirlee J. Snyder, Barbara Kozier & Glenora Erb, (2009). Buku Ajar Praktik keperawatan Klinis.Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta (INTERNET)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar