Senin, 04 Mei 2015

pemeriksaan fisik pada thorak

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

     Pemeriksaan fisik adalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu yang dianggap perlu oleh tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan, dll) yang bersangkutan. Pemeriksaan fisik merupakan bagian bagian dari pengkajian dalam proses keperawatan.

     Pengkajian (pemeriksaan) adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial dan lingkungan (Effendy, 1995).
1.2   Tujuan

1.      Untuk mengetahui prosedur pemeriksaan dada dan paru
  1. Untuk mengetahui prosedur pemeriksaan jantung
  2. Untuk mengetahui prosedur pemeriksaan payudara dan ketiak
1.3  Metode Penulisan

Adapun metode penulisan yang kami gunakan adalah metode pustaka dan literatur dari internet.




BAB II

PEMBAHASAN



2.1        Anatomi

A.    Dada (Thorak)

Dinding dada merupakan bungkus untuk organ di dalamnya, yang terbesar adalah jantung dan paru-paru. Tulang-tulang iga (kosta 1-12) bersama dengan otot interkostal, serta diafragma pada bagian caudal membentuk rongga thorax. Pleura parietals melapisi satu sisi dari thorax (kiri dan kanan). Sedangkan pleura viseralis melapisi seluruh paru (kanan dan kiri). Antara pleura parietals dengan viseralis ada tekanan negative (“menghisap”), sehingga pleura parietals dan viseralis sering bersinggungan. Ruangan antara kedua pleura disebut rongga pleura. Dengan rongga pleura, misalnya karena luka tusuk, maka tekanan positif akan memasuki rongga pleura, sehingga terjadi “open pneumo-thorax”. Tentu saja paru (bersama pleura viseralis) akan kuncup (collaps).
           
            Dada memiliki beberapa bentuk :
1.    Funnel chest : sternum bagian bawah serta iga masuk kedalam, terutama saat inspirasi, yang dapat disebabkan oleh hipertropi adenoid yang berat.
2.    Pigeon chest : yang sering disebut dada burung, bagian sternum menonjol kea rah luar, dimana biasanya disertai dengan depresi ventrikel pada daerah kostokodral. Kelainan ini dapat dilihat pada kasus osteoporosis.
3.   Barrel chest : dada berbentuk bulat seperti tong, sternum terdorong kearah depan dengan iga horizontal yang dapat dapat ditemukan pada penyakit obstruksi paru seperti asma, emfisema, dan lain-lain.

B.     Paru-Paru
Terdapat dua masing-masing di kiri dan kanan. Dari pangkal paru (jilus) keluar bronkus utama kiri dan kanan yang bersatu membentuk trakea.

C.     Mediastinum
Antara kedua paru (dan pleura viseralis) terdapat antara lain jantung dan pembuluh darah besar. Apabila ada tension pneumothorax maka mediastinum terdorong ke sisi yang sehat, sehingga ada gangguan arus balik darah melalui cava. Keadaan ini akan menimbulkan syok, karena jantung tidak maksimal mencurahkan darah. Jantung berdenyut dalam suatu kantong, yang dikenal sebagai pericardium, Apabila ada luka tusuk jantung, maka darah mungkin akan keluar dari jantung dan mengisi rongga pericardium, sedemikian rupa sehingga denyut jantung akan terhambat. Akan timbul syok, yang bukan syok hemoragik, melainkan syok kardiogenik.

2.2      Inspeksi Dada

Tujuan inspeksi dada
1.      Menentukan kecepatan dan irama pernapasan
2.      Untuk mengkaji bentuk serta fungsi dada dan organ-organ di dalamnya.
3.      Deformitas atau asimetris misalnya ditemukan Kifoskoliosis
4.      Retraksi inspirasi abnormal dari interkostal misalnya retraksi pada obstruksi jalan napfas
5.     Gangguan atau kelambanan gerakan pernapasan atau unilateral misalnya penyakit yang penyebab dasarnya di paru atau pleura, paralisis nervus frenikus

Prosedur Pelaksanaan

Inspeksi dada
1.    Buka baju klien dan perlihatkan badan klien sebatas pinggangnya
2.    Atur posisi klien duduk dan berdiri
3.    Beri penjelasan pada klien apa yang akan dilakukan oleh pemeriksa dan anjurkan klien untuk tetap santai dan rileks
4.    Lakukan pengamatan bentuk dada dari 4 sisi, yaitu
a.    Depan : Perhatikan klavikula, sternum, dan tulang rusuk
b.    Belakang : perhatikan bentuk tulang belakang, kesimetrisan skapula
c.    Sisi kanan
d.   Sisi kiri klien
5.    Inspeksi bentuk dada secara keseluruhan untuk mengetahui kelainan bentuk dada dan tentukan frekuensi respirasi
6.    Amati keadaan kulit dada, apakah terdapat retraksi interkostalis selama bernapas, jaringan perut, atau kelainan lainnya.
Tabel. pada pemeriksaan inspeksi paru
Inspeksi
Normal
Abnormal
Penampilan Umum
Pernapasan tenang, Duduk atau bangun  bersandar tanpa kesulitan, kulit stranlusen tampak kering, bidang kuku merah muda, membran mukosa merah muda, dan lembab, sianosis atau pucat dikaji dengan menetapkan nilai dasar individual, sebelumnya
Bibir monyong ketika menghirup napas, Condong kedepan dengan tangan atau siku di atas lutut, kulit : berkeringat, sedikit pucat, atau agak kemerahan, Sianosis : kulit atau membrane mukosa tampak kebiruan, sianosis sentral : akibat penurunan oksigenasi darah, sianosis perifer : akibat vasokontriksi setempat atau penurunan curah jantun, kuku tubuh : perbesaran falang terminal tanpa nyeri yang berkaitan dengan hipoksia jaringan kronis
Trakhea
Bagian tengah leher
Deviasi trachea : Pergeseran tempat baik lateral, anterior atau osterior.
Distensi vena jugularis
Batuk : kuat atau lemah, kering atau basah, produktif atau nonproduktif.
Pembentukan sputum : jumlah, warna, bau, konsistensi
Frekuensi
Eupnea : 12 sampai 20 kali
Takipnea : Frekuensi ≥ 20 kali/menit
Bradipnea : frekuensi ≤ 10 kali/menit
Pola pernapasan
Upaya inspirasi minimal : pasif, ekspirasi tenang, rasio inspirasi/ekspirasi=1:2
Pria : pernapasan diafragma
Wanita : pernapasan toraks
Hiperpnea : Peningkatan kedalaman pernapasan.
Pernapasan dengan otot-otot aksesorius.
Apnea : tidak ada pernapasan total.
Biot : irama takteratur dengan periode apnea.
Cheyne-Stokes : napas dalam dan dangkal bersiklus, diikuti dengan periode apnea.
Kussmaul : Pernapasan cepat dalam dan teratur.
Paradok : Bagian dinding dada bergerak selama inhalasi dan keluar selama ekshalasi.
Stidor : Bunyi yang terdengar jelas keras, tedak nyaring selama inhalasi dan ekshalasi
Konfigurasi toraks
Tampak simetris


Diameterantereroposterior (AP) lebih kecil dari diameter transversal

Tulang belakang lurus



Skapula pada bidang horizontal yang sama
Ekspansi dada tak sama.
Perkembangan makskular asimetris
Dada tong : diameter AP meningkat dalam hubungannya dengan diameter transversal
Kifosis : Fleksi ekstensi tulang belakang
Skoliosis : Peningkatan lengkung lateral
Letak skapula asimetris


2.3        Palpasi Dada

Tujuan palpasi dada
1.      Untuk mengetahui area nyeri tekan misalnya fraktur iga
2.      Abdornalitas yang terlihat misalnya massa, saluran sinus
3.      Ekspansi dada misal gangguan, kedua sisi pada PPOM dan penyakit parurestriktif

Palpasi dada
Ekspansi dada
1.    Berdiri di depan klien dan letakkan kedua telapak tangan secara datar pada dinding dada klien
2.    Anjurkan klien untuk menarik napas
3.    Rasakan gerakan dinding dada dan bandingkan sisi kanan dan sisi kiri
4.    Pemeriksa berdiri di belakang klien, letakkan tangan pemeriksa disisi dada lateral klien, perhatikan getaran kesamping sewaktu klien bernapas
5.    Letakkan kedua tangan pemeriksa di punggung klien-ibu jari diletakkan sepanjang penonjolan spina setinggi iga ke-10 dengan telapak menyentuh permukaan posterior. Jari-jari harus terletak kurang lebih 5 cm terpisah dengan titik ibu jari pada sepina dan jari lain ke lateral
6.    Setelah Ekshalasi, minta klien untuk bernapas dalam, observasi gerakan ibu jari pemariksa.
7.    Bandingkan gerakan kedua sisi dinding dada.
Palpasi
        Untuk mengkaji keadaan kulit,
        nyeri tekanà luka setempat
        massa, peradangan, à metastasis, tumor
        kesimetrisan ekspansi dan tactil vremitus
         getaran meningkat : inviltrat
         getaran menurun : empisema, pnemotorak, hidrotorak, atelektasis

Teknik pemeriksaan
Kemungkinan temuan/ abnormal
Area nyeri tekan
Misalnya fraktur iga
Abdornalitas yang terlihat
Misalnya massa, saluran sinus
Ekspansi dada
Gangguan, kedua sisi pada PPOM dan penyakit parurestriktif
Taktil fremitus
Peningkatan atau penurunan local atau umum

Taktil Fremitus
1.    Letakkan telapak tangan pada bagian belakang dinding dada dekat apeks paru-paru
2.    Instruksikan klien untuk mengucapkan bilangan.“ Sembilan-sembilan“.
3.    Ulangi langkah tersebut dengan tangan bergerak ke bagian dasar paru-paru
4.    Bandingkan fremitus pada kedua sisi paru dan diantara apeks dasar paru-paru
5.    Lakukan palpasi taktil fremitus pada dinding dada anterior
6.    Minta klien untuk berbicara lebih keras atau dengan nada lebih rendah jika fremitus redup
2.5       Perkusi Dada

Tujuan perkusi dada
1.    Digunakan untuk menentukan jaringan paru di bawahnya terisi udara atau cairan, atau padat.
2.    Perkusi akan membantu dalam menentukan batas-batas dari paru-paru
Perkusi dada
1.    aturkan posisi klien supinasi/telentang
2.    Untuk perkusi paru anterior, perkusi dimulai dari atas klavikula kebawah pada sepasium interkostalis dengan interval 4-5 cm mengikuti pola sistematik.
3.    Batas paru dextra : Perkusi dimulai dari bawah clavicula sampai dengan ICS 5.
4.    Untuk menentukan batas paru  sinistra: Mulai bawah clavicula sampai dengan ICS 3.
5.    Bandingkan sisi kiri dan kanan
6.    Anjurkan posisi klien duduk atau berdiri
7.    Untuk perkusi paru posterior, lakukan perkusi mlai dari puncak paru kebawah
8.    Bandingkan sisi kiri dan kanan
9.    Instruksikan klien untuk menarik napas panjang dan menahannya untuk mendeterminasi gerak diafragma
10.  Lakukan perkusi sepanjang garis skapula sampai pada lokasi batas bawah sampai resonan berubah menjadi redup
11.  Tandai area redupnya bunyi dengn pensil/spidol
12.  Instruksikan klien untuk menghembuskan napas secara maksimal dan menahannya
13.  Lakukan perkusi dari bunyi redup/tanda I ke atas. Biasanya bunyi redup ke-2 ditemukan diatas tanda I
14.  Beri tanda pada kulit tempat ditemukannya bunyi redup (tanda II)
15.  Ukur jarak antara tanda I dan tanda II. Pada wanita jarak antara kedua tanda ini normalnya 3-5 cm, pada pria 5-6 cm
Prosedur perkusi
·       Tempatkan jari pleksimeter pada dinding dada yang akan diperiksa *untuk menghasilkan bunyi perkusi yang lebih keras, tekan jari dengan kuat. Cara ini lebih baik daripada melakukan pengetukan lebih keras.  pada tangan lainnya, lakukan pengetukan tanpa pergerakan siku (lakukan pengetukan dengan cepat dan seperti refleks)·    pengetukan dilakukan di bagian paling ujung, kemudian pindahkan jari dengan cepat agar getaran tidak teredam.
Pemeriksaan :
·       membandingkan bunyi perkusi paru kanan dan kiri secara berurutan
·       menentukan batas bawah paru

Tabel. temuan pada pemeriksaan perkusi paru
Perkusi
Normal
Abnormal
Bidang paru
Bunyi resonan, tingkat kenyaringan rendah, menggaung, mudah terdengar, kualitas sama pada kedua sisi.
Hiperesonan : akan terdengar pada pengumpulan udara atau pneumotoraks
Pekak atau datar : terjadi akibat penurunan udara di dalam paru-paru (tumor, cairan)
Gerakan dan posisi diafragma
Letak diafragma pada vertebrata toraks ke 10 setiap hemediafragma bergerak 3-6 cm
Posisi tinggi distensi lambung atau kerusakan saraf frenikus. Penurunan atau tanpa gerakan pada kedua hemodiafragma
         Perkusi
        Normal : resonan :’ dug,dug,dug “
         Melemah :bleg,bleg,bleg : “tumor
         Meningkat: deng,deng,deng : “pnemotorak”

2.6        Auskultasi Paru

Tujuan auskultasi paru
     Mengkaji gerakan udara melewati pohon trakheobronkial dan mendeteksi mukus atau jalan nafas yang terobstruksi.

Auskultasi paru
1.    Gunakan diafragma stetoskop untuk orang dewasa dan bell untuk anak-anak
2.    Letakkan stetoskop dengan kuat pada kulit diatas area interkostal
3.    Instruksikan klien bernapas  secara perlahan dan dalam dengan mulut sedikit tertutup
4.    Mulai auskultasi dengan urutan yang benar
5.    Dengarkan inspirasi dan ekspirasi pada setiap tempat
6.    Catat hasik auskultasi
Bunyi nafas normal
Tabel. Temuan dari auskultasi paru
Deskripsi
Lokasi
Asal
VESIKULER
Bunyi Vesikuler halus ,lembut dan bernada rendah. fase inspirsi 3 kali lebih lama dari fase ekspirasi
Paling baik didengar diperifer paru (kecuali diatas skapula)
Diciptakan oleh udara yang bergerak melewati jalan nafas yang lebih kecil
BRONKOVESIKULER
Bunyi Bronkovesikuler bernada sedang dan bunyi tiupan dengan intensitas sedang. Fase inspirasi sama dengan fase ekspirasi.
Paling baik didengar secara posterior antara scapula dan anterior diatas bronkeolus disamping sternum pada rongga intercostals pertama dan kedua
Diciptakan oleh udara yang bergerak melewati trakea yang dekat dengan dinding dada
BRONKIAL
Bunyi Bronkial terdengar keras dan bernada tinggi dengan kwalitas bergema. Ekspirasi lebih lama daripada Inspirasi
Paling baik terdengar diatas trakea
Diciptakan oleh udara yang bergearak melewati trakea yang dekat dengan dinding dada

Kelainan/abnormal paru
Bunyi
Daerah yang diauskultasi
Penyebab
Karakter
Krekels (Rales)
Paling umum terdengar di lobus dependen: dasar paru kanan dan kiri
Reinflasi sekolompo alveolus yang acakdan tiba-tiba;aliran udara yang kacau
Krekels halus adalah bunyi kemercik bernada halus tinggi,singkat,yang terdengar diakhir inspirasi,biasanya tidak hilang dengan batuk.
Krekels basah  adalah bunyi yang lebih rendah, lebih lambat terdengar dipertengahan inspirasi;tidak hilang dengan batuk.
Ronki
Terdengar diatas trakea dan bronkus ;jika cukup keras,dapat terdengar disebagian besar bidang paru
Spasme Muskuler, cairan atau mucus pada jalan napas yang besar, menyebabkan turbulensi
Bunyi keras,bernada rendah, bergemuruh, kasar yang paling sering terdengar selama inspirasi atau ekspirasi, dapat hilang dengan batuk.
Mengi
Dapat didengar diseluruh bidang paru
Aliran udara kecepatan tinggi melewai broncus yang mengalami penyempitan berat
Bunyi musikal bernada tinggi dan kontinu seperti berdecit yang terdengar secara kontinu selama inspirasi atau ekspirasi; biasanya lebih keras pada ekspirasi, tidak hilang dengan batuk.
Gesekan Pleura
Terdengar dibidang paru lateral anterior (jika klien duduk tegak)
Pleura yang mengalami inflamasi, pleura parietalis yang bergesekan dengan pleura viseralis
Bunyi kering , berciut yang paling terdengar selama inspirasi ; tidak hilang dengan batuk , terdengar paling keras diatas permukaan anterior lateral



BAB III
PENUTUP

1.1.Kesimpulan
Pemeriksaan dada (Thorax) adalah untuk mendapatkan kesan dari bentuk dan fungsi dari dada dan organ di dalamnya. Pemeriksaan dada dilakukan untuk mengetahui keadaan abnormal dada dan paru. Pemeriksaan dilaksanakan dengan Inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.

1.2 Saran
Dengan penyusunan makalah ini diharapkan mahasiswa-mahasiswi dapat mengetahui apa itu pemeriksaan thorak dan paru sehingga akan memudahkan mahasiswa keperawatan untuk melakukan praktek pemeriksaan fisik sesuai prosedur yang sudah ada.



DAFTAR PUSTAKA


Syaifudin,Drs.H.(2006).Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan.Penerbit    Buku Kedokteran EGC,Jakarta.

Kusyati, Eni.dkk.(2006). Keterampilan dan Prosedur Laboratorium.Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Bicklei S, Lynn. (2008).Pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan Bates. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Potter & Perry. (1997). Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.