BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar belakang
Pemeriksaan
fisik adalah pemeriksaan tubuh pasien secara keseluruhan atau hanya bagian tertentu
yang dianggap perlu oleh tenaga kesehatan (dokter, perawat, bidan, dll) yang
bersangkutan. Pemeriksaan fisik merupakan bagian bagian dari pengkajian dalam
proses keperawatan.
Pengkajian (pemeriksaan) adalah pemikiran dasar
dari proses keperawatan yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data
tentang klien, agar dapat mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan
kesehatan dan keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial dan lingkungan
(Effendy, 1995).
1.2
Tujuan
1.
Untuk
mengetahui prosedur pemeriksaan dada dan paru
- Untuk mengetahui prosedur
pemeriksaan jantung
- Untuk mengetahui prosedur
pemeriksaan payudara dan ketiak
1.3 Metode Penulisan
Adapun metode penulisan yang kami gunakan adalah metode pustaka dan
literatur dari internet.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Anatomi
A. Dada (Thorak)
Dinding dada merupakan bungkus untuk organ di dalamnya, yang terbesar adalah jantung dan paru-paru. Tulang-tulang iga (kosta 1-12) bersama dengan otot interkostal, serta diafragma pada bagian caudal membentuk rongga thorax. Pleura parietals melapisi satu sisi dari thorax (kiri dan kanan). Sedangkan pleura viseralis melapisi seluruh paru (kanan dan kiri). Antara pleura parietals dengan viseralis ada tekanan negative (“menghisap”), sehingga pleura parietals dan viseralis sering bersinggungan. Ruangan antara kedua pleura disebut rongga pleura. Dengan rongga pleura, misalnya karena luka tusuk, maka tekanan positif akan memasuki rongga pleura, sehingga terjadi “open pneumo-thorax”. Tentu saja paru (bersama pleura viseralis) akan kuncup (collaps).
Dada
memiliki beberapa bentuk :
1. Funnel chest : sternum bagian bawah
serta iga masuk kedalam, terutama saat inspirasi, yang dapat disebabkan oleh
hipertropi adenoid yang berat.
2. Pigeon chest : yang sering disebut
dada burung, bagian sternum menonjol kea rah luar, dimana biasanya disertai
dengan depresi ventrikel pada daerah kostokodral. Kelainan ini dapat dilihat
pada kasus osteoporosis.
3. Barrel chest : dada berbentuk bulat
seperti tong, sternum terdorong kearah depan dengan iga horizontal yang dapat
dapat ditemukan pada penyakit obstruksi paru seperti asma, emfisema, dan
lain-lain.
B.
Paru-Paru
Terdapat dua masing-masing di kiri dan kanan. Dari pangkal paru (jilus) keluar bronkus utama kiri dan kanan yang bersatu membentuk trakea.
Terdapat dua masing-masing di kiri dan kanan. Dari pangkal paru (jilus) keluar bronkus utama kiri dan kanan yang bersatu membentuk trakea.
C. Mediastinum
Antara kedua paru (dan pleura viseralis) terdapat antara lain jantung dan pembuluh darah besar. Apabila ada tension pneumothorax maka mediastinum terdorong ke sisi yang sehat, sehingga ada gangguan arus balik darah melalui cava. Keadaan ini akan menimbulkan syok, karena jantung tidak maksimal mencurahkan darah. Jantung berdenyut dalam suatu kantong, yang dikenal sebagai pericardium, Apabila ada luka tusuk jantung, maka darah mungkin akan keluar dari jantung dan mengisi rongga pericardium, sedemikian rupa sehingga denyut jantung akan terhambat. Akan timbul syok, yang bukan syok hemoragik, melainkan syok kardiogenik.
Antara kedua paru (dan pleura viseralis) terdapat antara lain jantung dan pembuluh darah besar. Apabila ada tension pneumothorax maka mediastinum terdorong ke sisi yang sehat, sehingga ada gangguan arus balik darah melalui cava. Keadaan ini akan menimbulkan syok, karena jantung tidak maksimal mencurahkan darah. Jantung berdenyut dalam suatu kantong, yang dikenal sebagai pericardium, Apabila ada luka tusuk jantung, maka darah mungkin akan keluar dari jantung dan mengisi rongga pericardium, sedemikian rupa sehingga denyut jantung akan terhambat. Akan timbul syok, yang bukan syok hemoragik, melainkan syok kardiogenik.
2.2 Inspeksi Dada
Tujuan inspeksi
dada
1. Menentukan
kecepatan dan irama pernapasan
2. Untuk mengkaji
bentuk serta fungsi dada dan organ-organ di dalamnya.
3. Deformitas atau
asimetris misalnya ditemukan Kifoskoliosis
4. Retraksi
inspirasi abnormal dari interkostal misalnya retraksi pada obstruksi jalan
napfas
5. Gangguan atau
kelambanan gerakan pernapasan atau unilateral misalnya penyakit yang penyebab
dasarnya di paru atau pleura, paralisis nervus frenikus
Prosedur Pelaksanaan
Inspeksi dada
1.
Buka baju klien
dan perlihatkan badan klien sebatas pinggangnya
2.
Atur posisi
klien duduk dan berdiri
3.
Beri penjelasan
pada klien apa yang akan dilakukan oleh pemeriksa dan anjurkan klien untuk
tetap santai dan rileks
4.
Lakukan
pengamatan bentuk dada dari 4 sisi, yaitu
a.
Depan :
Perhatikan klavikula, sternum, dan tulang rusuk
b.
Belakang :
perhatikan bentuk tulang belakang, kesimetrisan skapula
c.
Sisi kanan
d.
Sisi kiri klien
5.
Inspeksi bentuk
dada secara keseluruhan untuk mengetahui kelainan bentuk dada dan tentukan
frekuensi respirasi
6.
Amati keadaan
kulit dada, apakah terdapat retraksi interkostalis selama bernapas, jaringan
perut, atau kelainan lainnya.
Tabel. pada pemeriksaan inspeksi
paru
Inspeksi
|
Normal
|
Abnormal
|
Penampilan Umum
|
Pernapasan
tenang, Duduk atau bangun bersandar tanpa kesulitan, kulit stranlusen
tampak kering, bidang kuku merah muda, membran mukosa merah muda, dan lembab,
sianosis atau pucat dikaji dengan menetapkan nilai dasar individual,
sebelumnya
|
Bibir
monyong ketika menghirup napas, Condong kedepan dengan tangan atau siku di
atas lutut, kulit : berkeringat, sedikit pucat, atau agak kemerahan, Sianosis
: kulit atau membrane mukosa tampak kebiruan, sianosis sentral : akibat
penurunan oksigenasi darah, sianosis perifer : akibat vasokontriksi setempat
atau penurunan curah jantun, kuku tubuh : perbesaran falang terminal tanpa
nyeri yang berkaitan dengan hipoksia jaringan kronis
|
Trakhea
|
Bagian tengah leher
|
Deviasi
trachea : Pergeseran tempat baik lateral, anterior atau
osterior.
Distensi
vena jugularis
Batuk :
kuat atau lemah, kering atau basah, produktif atau nonproduktif.
Pembentukan sputum : jumlah,
warna, bau, konsistensi
|
Frekuensi
|
Eupnea : 12 sampai 20 kali
|
Takipnea : Frekuensi ≥ 20 kali/menit
Bradipnea : frekuensi ≤ 10 kali/menit
|
Pola pernapasan
|
Upaya
inspirasi minimal : pasif, ekspirasi tenang, rasio inspirasi/ekspirasi=1:2
Pria :
pernapasan diafragma
Wanita :
pernapasan toraks
|
Hiperpnea : Peningkatan kedalaman
pernapasan.
Pernapasan dengan otot-otot aksesorius.
Apnea : tidak ada pernapasan total.
Biot : irama takteratur dengan periode apnea.
Cheyne-Stokes : napas dalam dan
dangkal bersiklus, diikuti dengan periode apnea.
Kussmaul : Pernapasan cepat
dalam dan teratur.
Paradok : Bagian dinding dada bergerak selama inhalasi dan keluar selama
ekshalasi.
Stidor : Bunyi yang terdengar jelas keras, tedak nyaring selama inhalasi dan
ekshalasi
|
Konfigurasi toraks
|
Tampak simetris
Diameterantereroposterior (AP)
lebih kecil dari diameter transversal
Tulang belakang lurus
Skapula pada bidang horizontal yang sama
|
Ekspansi dada tak sama.
Perkembangan makskular asimetris
Dada tong : diameter AP meningkat dalam hubungannya dengan diameter transversal
Kifosis : Fleksi ekstensi tulang belakang
Skoliosis : Peningkatan lengkung lateral
Letak skapula asimetris
|
2.3 Palpasi Dada
Tujuan palpasi dada
1. Untuk
mengetahui area nyeri tekan misalnya fraktur iga
2.
Abdornalitas
yang terlihat misalnya massa, saluran sinus
3.
Ekspansi
dada misal gangguan, kedua sisi pada PPOM dan penyakit parurestriktif
Palpasi dada
Ekspansi dada
1.
Berdiri di
depan klien dan letakkan kedua telapak tangan secara datar pada dinding dada
klien
2.
Anjurkan klien
untuk menarik napas
3.
Rasakan gerakan
dinding dada dan bandingkan sisi kanan dan sisi kiri
4.
Pemeriksa
berdiri di belakang klien, letakkan tangan pemeriksa disisi dada lateral klien,
perhatikan getaran kesamping sewaktu klien bernapas
5.
Letakkan kedua
tangan pemeriksa di punggung klien-ibu jari diletakkan sepanjang penonjolan
spina setinggi iga ke-10 dengan telapak menyentuh permukaan posterior.
Jari-jari harus terletak kurang lebih 5 cm terpisah dengan titik ibu jari pada
sepina dan jari lain ke lateral
6.
Setelah
Ekshalasi, minta klien untuk bernapas dalam, observasi gerakan ibu jari
pemariksa.
7.
Bandingkan
gerakan kedua sisi dinding dada.
Palpasi
–
Untuk
mengkaji keadaan kulit,
–
nyeri tekanà luka
setempat
–
massa,
peradangan, Ã metastasis, tumor
–
kesimetrisan
ekspansi dan tactil vremitus
•
getaran
meningkat : inviltrat
•
getaran
menurun : empisema, pnemotorak, hidrotorak, atelektasis
Teknik pemeriksaan
|
Kemungkinan temuan/ abnormal
|
Area nyeri tekan
|
Misalnya fraktur iga
|
Abdornalitas yang terlihat
|
Misalnya massa, saluran sinus
|
Ekspansi dada
|
Gangguan, kedua sisi pada PPOM dan penyakit
parurestriktif
|
Taktil fremitus
|
Peningkatan atau penurunan local atau umum
|
Taktil Fremitus
1.
Letakkan
telapak tangan pada bagian belakang dinding dada dekat apeks paru-paru
2.
Instruksikan
klien untuk mengucapkan bilangan.“ Sembilan-sembilan“.
3.
Ulangi langkah
tersebut dengan tangan bergerak ke bagian dasar paru-paru
4.
Bandingkan fremitus pada kedua sisi paru dan diantara
apeks dasar paru-paru
5.
Lakukan palpasi
taktil fremitus pada dinding dada anterior
6.
Minta klien
untuk berbicara lebih keras atau dengan nada lebih rendah jika fremitus redup
2.5 Perkusi Dada
Tujuan perkusi dada
1.
Digunakan untuk
menentukan jaringan paru di bawahnya terisi udara atau cairan, atau padat.
2. Perkusi akan membantu dalam menentukan batas-batas dari paru-paru
Perkusi dada
1.
aturkan posisi
klien supinasi/telentang
2.
Untuk perkusi
paru anterior, perkusi dimulai dari atas klavikula kebawah pada sepasium
interkostalis dengan interval 4-5 cm mengikuti pola sistematik.
3.
Batas paru dextra : Perkusi dimulai dari bawah
clavicula sampai dengan ICS 5.
4.
Untuk
menentukan batas paru sinistra: Mulai bawah clavicula sampai dengan
ICS 3.
5.
Bandingkan sisi
kiri dan kanan
6.
Anjurkan posisi
klien duduk atau berdiri
7.
Untuk perkusi
paru posterior, lakukan perkusi mlai dari puncak paru kebawah
8.
Bandingkan sisi
kiri dan kanan
9.
Instruksikan
klien untuk menarik napas panjang dan menahannya untuk mendeterminasi gerak
diafragma
10. Lakukan perkusi sepanjang garis skapula sampai pada lokasi batas bawah
sampai resonan berubah menjadi redup
11. Tandai area
redupnya bunyi dengn pensil/spidol
12. Instruksikan klien untuk menghembuskan napas secara maksimal dan menahannya
13. Lakukan perkusi dari bunyi redup/tanda I ke atas. Biasanya bunyi redup ke-2
ditemukan diatas tanda I
14. Beri tanda pada kulit tempat ditemukannya bunyi redup (tanda II)
15. Ukur jarak
antara tanda I dan tanda II. Pada wanita jarak antara kedua tanda ini normalnya
3-5 cm, pada pria 5-6 cm
Prosedur perkusi
·
Tempatkan
jari pleksimeter pada dinding dada yang akan diperiksa *untuk menghasilkan
bunyi perkusi yang lebih keras, tekan jari dengan kuat. Cara ini lebih baik
daripada melakukan pengetukan lebih keras. pada
tangan lainnya, lakukan pengetukan tanpa pergerakan siku (lakukan pengetukan
dengan cepat dan seperti refleks)· pengetukan
dilakukan di bagian paling ujung, kemudian pindahkan jari dengan
cepat agar getaran tidak teredam.
Pemeriksaan :
·
membandingkan bunyi perkusi paru
kanan dan kiri secara berurutan
Tabel. temuan pada pemeriksaan
perkusi paru
Perkusi
|
Normal
|
Abnormal
|
Bidang paru
|
Bunyi resonan, tingkat
kenyaringan rendah, menggaung, mudah terdengar, kualitas sama pada kedua
sisi.
|
Hiperesonan : akan terdengar
pada pengumpulan udara atau pneumotoraks
Pekak atau datar : terjadi
akibat penurunan udara di dalam paru-paru (tumor, cairan)
|
Gerakan dan posisi diafragma
|
Letak diafragma pada vertebrata
toraks ke 10 setiap hemediafragma bergerak 3-6 cm
|
Posisi tinggi distensi lambung
atau kerusakan saraf frenikus. Penurunan atau tanpa gerakan pada kedua
hemodiafragma
|
•
Perkusi
– Normal : resonan :’ dug,dug,dug “
•
Melemah
:bleg,bleg,bleg : “tumor
•
Meningkat:
deng,deng,deng : “pnemotorak”
2.6 Auskultasi
Paru
Tujuan auskultasi paru
Mengkaji
gerakan udara melewati pohon trakheobronkial dan mendeteksi mukus atau jalan
nafas yang terobstruksi.
Auskultasi paru
1.
Gunakan
diafragma stetoskop untuk orang dewasa dan bell untuk anak-anak
2.
Letakkan
stetoskop dengan kuat pada kulit diatas area interkostal
3.
Instruksikan
klien bernapas secara perlahan dan dalam dengan mulut sedikit tertutup
4.
Mulai
auskultasi dengan urutan yang benar
5.
Dengarkan inspirasi dan ekspirasi pada setiap tempat
6.
Catat hasik auskultasi
Bunyi nafas normal
Tabel. Temuan dari auskultasi paru
Deskripsi
|
Lokasi
|
Asal
|
VESIKULER
Bunyi Vesikuler halus ,lembut
dan bernada rendah. fase inspirsi 3 kali lebih lama dari fase ekspirasi
|
Paling baik didengar diperifer
paru (kecuali diatas skapula)
|
|
BRONKOVESIKULER
Bunyi Bronkovesikuler bernada
sedang dan bunyi tiupan dengan intensitas sedang. Fase inspirasi sama dengan
fase ekspirasi.
|
Paling baik didengar secara posterior antara scapula
dan anterior diatas bronkeolus disamping sternum pada rongga intercostals
pertama dan kedua
|
Diciptakan oleh udara yang bergerak melewati trakea
yang dekat dengan dinding dada
|
BRONKIAL
Bunyi Bronkial terdengar keras
dan bernada tinggi dengan kwalitas bergema. Ekspirasi lebih lama daripada
Inspirasi
|
Paling baik terdengar diatas
trakea
|
Diciptakan oleh udara yang
bergearak melewati trakea yang dekat dengan dinding dada
|
Kelainan/abnormal paru
Bunyi
|
Daerah yang diauskultasi
|
Penyebab
|
Karakter
|
Krekels (Rales)
|
Paling umum terdengar di lobus
dependen: dasar paru kanan dan kiri
|
Reinflasi sekolompo alveolus
yang acakdan tiba-tiba;aliran udara yang kacau
|
Krekels halus adalah bunyi
kemercik bernada halus tinggi,singkat,yang terdengar diakhir
inspirasi,biasanya tidak hilang dengan batuk.
Krekels basah adalah
bunyi yang lebih rendah, lebih lambat terdengar dipertengahan inspirasi;tidak
hilang dengan batuk.
|
Ronki
|
Terdengar diatas trakea dan
bronkus ;jika cukup keras,dapat terdengar disebagian besar bidang paru
|
Spasme Muskuler, cairan atau
mucus pada jalan napas yang besar, menyebabkan turbulensi
|
Bunyi keras,bernada rendah,
bergemuruh, kasar yang paling sering terdengar selama inspirasi atau
ekspirasi, dapat hilang dengan batuk.
|
Mengi
|
Dapat didengar diseluruh bidang
paru
|
Aliran udara kecepatan tinggi
melewai broncus yang mengalami penyempitan berat
|
Bunyi musikal bernada tinggi
dan kontinu seperti berdecit yang terdengar secara kontinu selama inspirasi
atau ekspirasi; biasanya lebih keras pada ekspirasi, tidak hilang dengan
batuk.
|
Gesekan Pleura
|
Terdengar dibidang paru lateral
anterior (jika klien duduk tegak)
|
Pleura yang mengalami inflamasi,
pleura parietalis yang bergesekan dengan pleura viseralis
|
Bunyi kering , berciut yang
paling terdengar selama inspirasi ; tidak hilang dengan batuk , terdengar
paling keras diatas permukaan anterior lateral
|
BAB III
PENUTUP
1.1.Kesimpulan
Pemeriksaan
dada (Thorax) adalah untuk mendapatkan kesan dari bentuk dan fungsi dari dada dan organ di dalamnya. Pemeriksaan dada dilakukan
untuk mengetahui keadaan abnormal dada dan paru. Pemeriksaan dilaksanakan
dengan Inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi.
1.2 Saran
Dengan penyusunan makalah ini diharapkan mahasiswa-mahasiswi dapat
mengetahui apa itu pemeriksaan thorak dan paru sehingga akan memudahkan
mahasiswa keperawatan untuk melakukan praktek pemeriksaan fisik sesuai prosedur yang sudah ada.
DAFTAR PUSTAKA
Syaifudin,Drs.H.(2006).Anatomi
Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan.Penerbit Buku
Kedokteran EGC,Jakarta.
Kusyati, Eni.dkk.(2006). Keterampilan
dan Prosedur Laboratorium.Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Bicklei S, Lynn. (2008).Pemeriksaan
fisik & riwayat kesehatan Bates. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Potter & Perry. (1997). Buku Ajar Fundamental Keperawatan.
Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta.